WahyuDSLR Rental Kamera

Sewa Kamera di WahyuDSLR Rental Kamera dan dapatkan harga hemat bersahabat untuk kamu semuanya

Paket Weekend Sewa Kamera

Paket Hemat Weekend untuk kamu semuanya yang ingin liburan panjang

Paket Ulang Tahun Sewa Kamera

Spesial buat yang lagi ulang tahun ada paket khusus ulang tahun, Sewa Kamera DUA hari bonus TIGA hari, mantabbb...

Paket Foto with Fotografer

Paket Foto Event buat kamu yang lagi ada kegiatan atau liburan, ambil harga hemat untuk menemani liburan anda...

Delivery Order Antar Jemput Sewa Kamera

Siap Antar Jemput buat kamu yang gak mau repot datang ke outlet

Thursday, November 14, 2013

PANDUAN MEMBELI KAMERA DSLR

Kamera DSLR (Digital Single Lens Reflect) merupakan kamera yang memiliki kelas dan sangat diminati oleh semua kalangan. Dalam membeli kamera DSLR, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Khusus untuk para pemula dan yang memiliki budget terbatas, ada baiknya mengetahui beberapa hal berikut sebelum membeli kamera DSLR. Hal ini sangat penting karena kamera pertama yang dimiliki akan menentukan pilihan asesoris selanjutnya.
Berikut ini akan kami ulas beberapa hal sebagai panduan untuk membeli kamera DSLR.

1. Kebutuhan dan Budget
Membeli kamera DSLR sesuai dengan kebutuhan adalah hal yang bijak. Jangan memaksakan diri mebeli yang canggih fiturnya padahal kita tidak membutuhkan fitur tersebut untuk keseharian. Untuk para pecinta fotografi pemula disarankan untuk mencari dengan budget yang tidak terlalu mahal. Agar kelak jika sudah mahir baru mencari yang lebih handal.

2. Sensor
Perhatikan Ukuran sensor yang digunakan untuk menangkap gambar. Walaupun banyak sekali variasi ukuran, umumnya terbagi dalam 3 kategori, yaitu:
a. FullFrame 
Kamera DSLR full frame adalah semua kamera DSLR yang menggunakan ukuran sensor yang sama dengan ukuran film analog. Jadi apa yang dilihat di viewfinder, itulah hasil fotonya. Tanpa ada yang dikurangi atau istilah fotografinya di "crop".
b. Kamera sensor APS-C
Kamera sensor APS-C memiliki ukuran sensor lebih kecil. Konswekuensinya ada bagian foto yang hilang atau di crop. Keuntungannya harga menjadi lebih murah dan body lebih ringan.
c. Kamera sensor Four-Thirds
Kamera jenis ini merupakan kamera yang sedang menjadi trend saat ini. Dengan ukuran sensor lebih kecil dari APS-C, bodynya menjadi lebih kecil pula dan tentu lebih ringan dan mudah dibawa kemana-mana tanpa banyak mengurangi kualitas gambar yang dihasilkan.

Contoh kamera full frame: 
Canon 5D mark III, Nikon D600, Nikon D700, Nikon D800, Nikon D4, Sony A99.
Contoh kamera crop sensor APS-C :
Canon 600D/650D/60D/7D, Nikon D3000/D3200/D90/D7000, Sony A390, Sony SLT A37/A57. Contoh kamera Four-Thirds :
Canon EOS-M, Fuji XE-1, Nikon J1/V1, Olympus EPL/EPM/EP, Panasonic GF, Sony NEX. 

3. Fitur Resolusi Megapixel
Apabila berencana ingin mencetak foto dalam ukuran besar, sebaiknya membeli kamera dengan resolusi besar sehingga hasil cetakan foto juga bisa maksimal sesuai yang diinginkan. Sebagai gambaran kamera dengan 4 MP bisa menghasilkan cetakan yang bagus ukuran 10R (seperti ukuran sampul majalah). Nah kalau hanya sekedar ingin foto-foto dan share ke dunia maya, Megapixel besar tidak terlalu dibutuhkan.

4. ISO
Fitur lainnya pada kamera DSLR yang mungkin perlu diperhatikan adalah pengaturan ISO untuk memotret di tempat gelap. ISO ini berkaitan dengan tingkat sensitifitas sensor pada kamera terhadap cahaya. Semakin besar nilai pada settingan di kamera maka semakin sensitif dan besar cahaya yang didapatkan.

5. Speed/Kecepatan
Kamera DSLR memiliki kecepatan yang lebih baik daripada kamera saku mahal. Kecepatan diperlukan apabila sering memotret objek bergerak misalnya mobil yang sedang melaju atau menonton konser musik.

6. Image Stabilization/Anti Getar
Hal lain yg perlu diperhatikan memilih kamera DSLR adalah antishake systems. Karena gambar yang diambil pada pencahayaan kurang ataupun diambil dari jarak jauh akan rawan menjadi buram (blur) karena gerakan tangan atau kamera yang tidak disengaja. Image Stabilization ini dirancang untuk menghindari hal ini.

7. Ukuran dan Model
Ukuran kamera DSLR memang besar dan tidak seperti kamera digital biasa. Namun ada pula beberapa kamera DSLR yang ringan dan bisa dibawa kemana-mana saat bepergian. Bahkan seperti diulas di atas, jenis kamera Four-Thirds nyaman dibawa kemana-mana dengan bentuk kecil....

sumber :
http://www.kaskus.co.id/thread/516de7eb1ed719d77a000000/7-panduan-membeli-kamera-dslr-untuk-pemula

Wednesday, November 13, 2013

Tips membeli kamera DSLR baru atau bekas

Dunia Fotografi saat ini semakin mudah, dimana orang bisa dapat mengambil gambar atau foto yang bagus cukup memakai handphone kamera dan mempercantiknya dengan efek / filter di applikasi kamera handphone ataupun menggunakan applikasi seperti Instagram.

Namun bila Anda ingin serius menggeluti dunia Fotografi maka smartphone secanggih apapun (iPhone atau Android) maupun kamera mirrorless (Panasonic GX1, Canon S110) tidak akan mampu menandingi kemampuan Kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex).


Memilih kamera DSLR baik baru atau bekas (second) tidak pernah mudah karena banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli. Produsen kamera seperti Nikon, Canon, Olympus, Leica, dll terus membanjiri pasar dengan fitur gimmick yang belum tentu / jarang digunakan serta penggunaan istilah di spesifikasi kamera DSLR yang dapat membingungkan bagi pemula (ISO, fstop, aperture, white balance, dll).



Bila Anda tergolong baru (pemula) di dunia fotografi maka yang harus diperlukan terlebih dahulu adalah pengetahuan mengenai ISO, aperture, dan shutter speed yang semuanya harus bekerja secara sinkron. Dimana fungsi aperture adalah mengontrol seberapa banyak cahaya yang masuk ke lensa kamera, ISO berfungsi mengatur sensitif kamera terhadap cahaya dan shutter speed menentukan berapa lama paparan cahaya yang masuk.

Fitur-fitur yang harus ada pada kamera DSLR
1. ISO

ISO mendeskripsikan kepekaan cahaya dari sensor yang ada di kamera DSLR terhadap standar umum. Nilai ISO tinggi di kamera berarti gambar yang dihasilkan lebih terang. Tapi ISO tinggi sangat dipengaruhi juga oleh kualitas sensor kamera di DSLR dan juga fungsi noise reduction supaya hasil foto tetap berkualitas meskipun diambil di tempat yang minim cahaya.

2. APERTURE

Aperture diukur menggunakan skala f-number yang mungkin membingungkan pada awal mengenalnya. Secara singkat aperture adalah kemampuan lensa untuk menyempitkan cahaya yang melewatinya menggunakan elemen internal yg disebut diafragma; diafragma dapat diperpanjang dan diperpendek menggunakan kontrol pada kamera. Angka f-number yg rendah (f/2.8 kebawah) menunjukkan aperture lebih luas, sementara nilai lebih tinggi menandakan cahaya diblokir lebih banyak.


Pengaturan aperture yg lebar tidak cocok untuk mengambil foto seperti pemandangan karena membuat hasil foto menjadi blur, wide aperture lebih cocok dipakai untuk menyempitkan fokus untuk objek yang sangat dekat dan memberikan tampilan latar belakang yang lembut (bokeh effect).


Jadi bila menginginkan fokus lebih luas seperti mengambil foto landscape adalah dengan cara mempersempit aperture atau menggunakan nilai f/8 supaya cahaya lebih fokus dan menghasilkan kedalaman (depth of field).

3. SHUTTER SPEED

Shutter speed berfungsi mengatur seberapa lama cahaya yang masuk kedalam kamera. Shutter speed diukur dalam sepersekian detik, dimana nilai 1/125 menandakan bahwa shutter terbuka selama 1/125 detik. Kecepatan shutter speed yang tinggi berarti kamera mengambil foto dalam waktu yang lebih singkat sehingga foto tidak blur, sementara kecepatan shutter rendah memungkinkan foto lebih terang karena menyerap lebih banyak cahaya, tapi dengan risiko hasil foto menjadi blur jika kamera dan subjek tidak ber goyang (bisa diakali dengan tripod).



Ketiga fitur diatas merupakan kontrol yang paling penting pada kamera Anda, tetapi ada atribut lain yang juga penting bila kita ingin mendapatkan kualitas foto terbaik.

4. Ukuran Sensor Kamera DSLR

Biasanya dengan membeli kamera DSLR baru atau bekas dgn sensor berukuran besar akan mampu menghasilkan foto yang baik karena semakin luas permukaan fotosensitif maka cahaya yang masuk lebih mencukupi. Ukuran sensor dengan harga kamera DSLR biasanya berbanding lurus, jadi sesuaikan uang yang Anda miliki.

5. Ketajaman Lensa

Anda dapat men-tweak pengaturan kamer sebanyak yang Anda suka, tetapi tanpa lensa berkualitas dengan ketajaman yang baik maka hasil foto akan tampil biasa saja.


Tapi sayangnya, sangat sulit menentukan kualitas lensa karena kinerja lensa bervariasi dari segi aperture dan tingkat Zoom level. Lensa tertajam pada f/4 biasanya adalah lensa f/1.8 atau f/1.4 yang ditarik kembali dari pengaturan tertinggi mereka. Demikian pula, lensa mulai berdistorsi pada tipeextreme wide lens (16mm kebawah) dan telephoto (135mm keatas) pada ujung rentang zoom-nya; untungnya beberapa kamera DSLR canggih dapat secara otomatis memperbaikinya.


Lensa kamera yang bagus biasanya terbuat dari kaca dan bukan dari plastik. Lensa kamera utama tanpa fungsi zoom dengan focal length tetap biasanya lebih berkualitas daripada lensa zoom karena konstruksinya yg sederhana. Untuk hasil foto terbaik di setiap kondisi mutlak, maka Anda tentu menginginkan kamera yang mampu bertukar lensa bersama dengan lensa wide aperture untuk focal length yang paling umum yaitu 24mm, 50mm, 80mm, 100mm dan 200mm.

6. Fungsi Autofokus

Kehandalan, ketepatan dan kecepatan kamera melakukan autofokus terutama dalam cahaya rendah merupakan salah satu keunggulan kamera DSLR dibandingkan smartphone ataupun kamera pocket. Cari kamera DSLR yang mampu melakukan autofokus secara cepat dan juga memiliki titik AF yang banyak.

7. Optical Image Stabilization

Fitur image stabilization pada kamera DSLR akan membuat hasil foto tidak blur meskipun posisi kamera saat dipegang bergoyang / blur dan suatu keharusan bila mengambil foto menggunakan lensa tele atau zoom. Beberapa produsen kamera menamainya berbeda-beda seperti Canor dengan nama Optical Image Stabilizer, Panasonic dengan MegaOIS, Nikon dengan nama fitur Vibration Reduction, dll.

Tapi sama halnya seperti Digital Zoom, pembaca sebaiknya menghindari membeli kamera DSLR yang memiliki fitur digital image stabilization karena ini hanyalah strategi pemasaran saja.

8. Megapixels

Megapixel menentukan seberapa besar hasil foto yang dapat dicetak tanpa pembesaran digital di komputer (yg dapat mengurangi kualitas). Jadi tentukan tujuan Anda menfoto, bila foto hanya untuk disimpan di komputer dan jarang dicetak maka ukuran 8 Megapixels ketas sudahlah cukup. Namun jika tujuan membeli kamera DSLR baru atau bekas adalah untuk mencetak poster, billboard ataupun media berukuran besar lainnya maka semakin besar megapixel akan semakin baik.

9. View finder dan LCD

Viewfinder masih dibutuhkan dengan beberapa alasan seperti pengambilan gambar lebih mudah karena posisi tangan lebih stabil ketimbang saat memofoto dengan melihat LCD, menghemat baterai (mematikan LCD dan menfoto dengan melihat dari view finder).

Tapi bila kamera DSLR yang ingin dibeli tidak memiliki viewfinder maka pastikan LCD kamera memiliki resolusi layar yang baik dan dapat terlihat jelas di bawah sinar matahari. Beberapa kamera DSLR terbaru juga memiliki fitur LCD touchsreen yang memudahkan dalam pengoperasian.

10. White Balance

Semua kamera modern memiliki White Balance yang telah diatur untuk pencahayaan artifisial, tetapi hanya kamera DSLR profesional yang memberikan kontrol granular untuk white balance dengan kemampuan mensetting white balance dengan cepat.

Mayoritas kamera DSLR yang beredar sekarang sudah memiliki pilihan pengaturan White Balance dengan cukup menfoto benda berwarna putih contohnya kertas / kain putih sehingga warna foto akan terkalibrasi menurut sample benda tersebut.

11. ZOOM

Carilah kamera dengan optical zoom dan bukan digital zoom. Sebuah kamera dengan lensa 28mm dan zoom 10x akan mampu melihat lebih dekat (280mm) dibandingkan lensa 24mm (240mm ketika diperbesar). Tpi jika Anda ingin melihat sedekat mungkin ke objek foto, jumlah yang paling penting adalah sudut telephoto ketimbang jumlah X zoom.

12. Merekam Video HD

Meski bukanlah hal yang penting, fitur merekam video HD sudah banyak disematkan pada kamera DSLR, tapi jangan jadikan ini hal utama.


Pada akhirnya, kebutuhan tiap orang akan kamera DSLR yang tepat berbeda-beda. Jika menginginkan kualitas foto terbaik maka siap-siap menyediakan uang banyak untuk memberi kamera, lensa beserta peralatan pendukungnya. Tapi bila masih pemula dan hanya menfoto sekedar hobi maka sebaiknya memulai dengan tipe kamera yang tidak terlalu high-end tapi masih mampu menghasilkan foto yang bagus...(WahyuDSLR)

Tips Singkat Fotografi



Berikut beberapa tips singkat fotografi untuk anda menambah informasi dan kemampuan fotografi anda, saya yakin beberapa sudah pernah dilakukan tetapi semoga beberapa lainnya merupakan informasi baru. Klik tanda ¶ (jika ada) disebelah kanan masing-masing tip untuk melihat informasi yang lebih detail. Silahkan:

1.     Untuk melatih kemampuan panning anda, potretlah benda yang sedang bergerak dengan kecepatan normal (orang naik motor misalnya), gunakan mode shutter priority dan set shutter speed maksimal 1/30 detik, lebih lambat lebih baik. Perhatikan background anda! - ¶ - 

2.     Untuk memotret makro (jarak super dekat), aktifkan fitur Live View kamera digital anda agar lebih mudah memeriksa depht of field dan fokus. 

3.    Filter CPL (polarisasi) sangat berguna untuk menghilangkan pantulan sinar matahari di air dan kaca, dan juga berfungsi memperbaiki warna langit. Pernahkah anda mengenakan kacamata hitam dengan polariser? - ¶ - 

4.  Saat memotret bayi/anak-anak, pastikan anda memusatkan perhatian ke mata. Tak ada yang bisa mengalahkan keindahan mata anak-anak. - ¶ - 

5.  Megapiksel bukanlah fitur terpenting dari sebuah kamera, ukuran sensorlah fitur yang paling penting
Untuk foto portait (wajah) di luar ruangan, usahakan ketika cuaca sedang mendung. Kalaupun tidak, carilah daerah yang redup dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sinar matahari membuat bayangan yang keras di wajah. - ¶ - 

6.  Ketika anda memotret di kondisi minim cahaya dan kesusahan menggunakan autofokus, gantilah dengan manual fokus. Fitur autofokus dikamera biasanya cukup lama mencari titik fokus di kondisi remang-remang. - ¶ - 

7.  Untuk foto siluet, pastikan anda matikan flash serta gunakan mode sunset (untuk kamera pocket), untuk SLR gunakan mode manual dan ukurlah eksposur di area terang di belakang obyek. - ¶ - 

8.  Download-lah buku manual versi pdf untuk kamera anda, sehingga anda mudah melakukan pencarian secara cepat untuk kata yang ingin anda ketahui dibanding harus membolak-balik halaman kertas. - ¶- 

9.  Sebelum berangkat memotret, periksa kembali setting kamera anda, jangan sampai anda mneggunakan setting yang salah (memotret landscape dengan ISO 1000 misalnya). Menurut para fotografer pro, urutan pengecekan yang baik adalah berikut: cek White Balance – aktifkan fitur Highlight warning – cek settingan ISO – cek ukuran Resolusi foto anda. - ¶ - 

10. Formatlah memory card hanya di kamera, jangan pernah memformat memory card dikomputer. Selain jauh lebih cepat dan mudah juga jauh lebih aman jika anda melakukannya di kamera. 

Jika anda memiliki kapasitas hard disk berlebih di komputer serta suka melakukan foto editing, gunakan format RAW saat memotret, jika tidak cukup gunakan JPG. - ¶ - 

11. Jika anda benar-benar menyukai fotografi landscape, fotolah di jam-jam berikut: dari jam 5 sampai jam 8 pagi, serta dari jam 4 sampai jam 7 sore.
Ketika memotret, lihatlah area paling terang yang masuk ke viewfinder anda. Kalau terangnya terlalu mencolok dibanding area lain, gantilah sudut pemotretan. 

12. Untuk memotret HDR, gunakan mode auto bracket. Satu lagi: untuk foto HDR landscape yang dahsyat, tunggulah sampai muncul mendung sedikit, lalu mulailah memotret. - ¶ -
13. Jika anda membeli lensa atau kamera bekas, pastikan anda melakukan transaksi dengan bertemu penjualnya secara langsung. Anda harus menguji barangnya, memegang dan mencobanya – ¶ – 

14. Sepanjang memungkinkan, gunakan settingan ISO serendah mungkin. Meskipun noise reduction bisa mengurangi noise yang dihasilkan oleh ISO yang tinggi, namun akan mengurangi detail foto secara keseluruhan. - ¶ - 

15.  Kalau warna membuat foto anda terlalu “sibuk” dan ramai, ubahlah foto anda menjadi foto hitam putih
Untuk menghasilkan foto hitam putih yang bagus, perhatikan kontras dalam foto anda. Semakin banyak kontras (area gelap dan terang yang beragam), semakin bagus foto hitam putih anda. - ¶ - 

16.  Bawalah kamera kemanapun anda pergi, cara paling cepat meningkatkan kemampuan fotografi anda adalah dengan memperbanyak jam terbang, tidak ada yang lebih baik. - ¶ -





kredit foto adrift oleh: Richard Outram.

Tuesday, November 12, 2013

10 Tips Memotret di Kondisi Cahaya Gelap

Jakarta - Kebanyakan alasan orang-orang membeli kamera DSLR karena ingin kualitas fotonya meningkat terutama di kondisi cahaya yang gelap. Kamera DSLR memiliki sensor gambar yang jauh lebih besar dari kamera compact sehingga potensi mendapatkan hasil foto yang bagus jelas lebih besar.

Tapi jika tidak bisa menyetting dan mengunakannya dengan baik, maka hasil foto dengan kamera DSLR tidak akan maksimal juga. Di artikel ini saya akan berbagi beberapa tips saat memotret di kondisi cahaya yang cukup gelap, misalnya di dalam ruangan atau saat malam hari.

1. Gunakan ISO tinggi - Saat memotret di kondisi cahaya gelap dan dengan kamera dalam genggaman, sebaiknya mengunakan ISO tinggi sekitar ISO 800-6400 (tergantung tingkat cahaya yang ada).

ISO tinggi akan membuat kualitas foto menjadi kurang baik, tapi jika kondisi cahaya sangat gelap dan kita tidak memiliki alat bantu seperti tripod atau flash, maka satu-satunya cara supaya foto tidak gelap/tidak tajam adalah mengunakan ISO tinggi.


2. Mode Aperture Priority (A atau Av) - Mode kamera yang saya andalkan adalah mode A / Av. Mode ini cukup handal untuk berbagai kondisi, termasuk kondisi cahaya gelap.

Jika Anda cukup berpengalaman, mode Manual (M) juga cukup bagus. Mode A ini cukup praktis. Saat memotret di kondisi cahaya gelap, putar nilai bukaan ke angka yang kecil misalnya f/3.5 atau lebih kecil lagi.

Semakin kecil angkanya, semakin besar bukaan lensanya. Nilai bukaan ini tergantung lensa yang terpasang. Ada lensa yang bisa membuka sampai f/1.4 tapi kebanyakan lensa zoom maksimal bukaannya sekitar f/3.5, f/4 atau f/5
Bukaan ibaratnya adalah jendela dalam ruangan. Semakin besar jendelanya, semakin terang ruangannya. Saat kondisi cahaya gelap, dibutuhkan bukaan yang besar. 


3. Pakai lensa berbukaan besar - Menyambung dari tips di atas, lensa bukaan besar menguntungkan di kondisi cahaya gelap. Dengan lensa berbukaan besar, seperti 35mm f/1.8 atau 50mm f/1.8, kita dapat memasukkan banyak cahaya ke dalam kamera.

Saat menggunakan bukaan yang sangat besar, ISO tidak perlu terlalu tinggi, ISO 400-1600 biasanya sudah cukup. Efek lain dari bukaan besar yaitu latar belakang yang tidak fokus akan terlihat blur, sementara subjek yang difokus akan tajam. Ideal untuk portrait orang/model.

4. Continuous drive - Memotret berturut-turut dapat membantu dalam kondisi cahaya gelap. Tujuannya adalah untuk mendapatkan satu foto yang tajam. Cara mengaktifkan foto berturut-turut adalah di menu drive mode.

Pilih simbol kotak-kotak berlapis, lalu saat mengambil foto. Tahanlah tombol shutter/jepret dan kamera akan mengambil foto berturut-turut. Pilihlah foto yang terbaik dari beberapa foto yang telah dibuat.

5. Perhatikan arah cahaya yang jatuh ke subjek foto - Amati jatuhnya cahaya ke subjek. Misalnya saat memotret orang, amati apakah cahaya yang jatuh ke wajah cukup merata? atau wajahnya tertutup bayangan?

Jika memungkinkan, komunikasikan kepada subjek tersebut untuk menoleh ke arah cahaya.

6. Tunggu momen yang tepat - Jika subjek tidak bisa diatur, maka tunggulah saat yang tepat untuk memotret. Saat fashion show misalnya, ada waktu 1-2 detik saat subjek berpose dan diam. Saat itu adalah saat yang tepat untuk memotret

7. Mantapkan genggaman - Saat memotret di kondisi cahaya yang sangat gelap, biasanya shutter speed menjadi cukup lambat. Saat tersebut, kita harus mantapkan genggaman kamera dan latihan pernafasan yang baik.


Tahan nafas dan hembuskan nafas perlahan saat menekan tombol shutter dengan lembut. Mantapkan posisi tubuh dan jangan sampai kamera bergetar saat kita menekan tombol shutter.

8. Efek gerakan - Kita bisa membuat efek orang yang bergerak dengan memasukkan elemen motion blur. Caranya yaitu mengunakan shutter speed yang agak lambat kemudian sedikit panning (menggerakkan kamera) sehingga subjek foto dan latar belakang sedikit blur. Efek gerakan ini kadang berhasil, kadang gagal karena terlalu blur/goyang.

9. Gunakan tripod - Tripod ideal untuk pemotretan subjek yang tidak bergerak di malam hari, contohnya seperti foto pemandangan alam, kota, langit atau di dalam ruangan. Dengan mengunakan tripod, kita tidak kuatir shutter speed lambat menyebabkan foto blur.

Kita juga bisa mengunakan ISO terkecil (100/200) untuk mendapatkan hasil foto dengan kualitas yang maksimal. Tripod tidak akan membantu saat memotret subjek yang bergerak misalnya foto manusia atau satwa.

10. Gunakan flash/lampu kilat - Jika cahaya yang menyinari subjek tidak bagus (gelap, merata, warnanya tidak cocok). Maka solusinya adalah dengan mengunakan flash. Di kamera DSLR biasanya sudah ada lampu kilat yang terpasang (Built-in flash).

Flash ini bisa membantu menerangi subjek, tetapi biasanya hasilnya keras dan menghilangkan dimensi subjek. Saya menyarankan mengunakan flash eksternal (speedlight). Jika memotret di dalam ruangan, arahkan flash ke atas langit-langit sehingga dapat cahaya akan dipantulkan kembali ke subjek
Hasilnya adalah cahaya yang lebih lembut dan merata, dimensi subjek juga terlihat lebih nyata dan alami. Pastikan langit-langit tidak terlalu tinggi atau memiliki warna yang tidak cocok, karena cahaya yang dipantulkan akan memiliki warna sesuai dengan warna langit-langit.




(Di kondisi cahaya yang sangat gelap karena matahari belum terbit dan penerangan kuil sangat remang-remang. Saya menunggu sampai biarawati melihat ke arah cahaya yang berasal dari lampu diluar ruang kuil. ISO 3200, f/1.4, 1/100 detik)


Selamat mencoba dan semoga berhasil membuat foto yang lebih baik.

Teknik Dasar Memotret dengan Benar untuk Pemula

Teknik Dasar Memotret dengan Benar untuk Pemula - Banyak orang bilang memotret merupakan kegiatan yang kuker alias kurang kerjaan banget, tapi di album foto facebook atau di Handphone mereka? Haha, saya juga pernah melihat di handphone teman saya (cewek) di album fotonya, semua fotonya menurut saya sama semua! Bukan main yang saya lihat, satu kostum dan satu latar tapi fotonya puluhan! Namanya juga cewek. Ok, back to topic, nah bagaimana cara memotret dengan baik itu? Berikut Teknik Dasar Memotret dengan Baik untuk Pemula

1. Sudut PandangUntuk menghasilkan foto yang menarik diperlukan keberanian untuk meletakan objek foto tidak selalu ditengah frame kamera. Biasanya para pemula sering terpaku dengan teori-teori yang pernah diketahui. Padahal dengan meletakan objek d ipojok frame juga akan menarik asal dapat menyatu dengan elemen yang ada disekitar objek. Setiap fotografer mempunyai cara yang berbeda dalam mengambil kondisi/angle, itu semua tergantung dari sense of art dan banyak memotret.


2. KetajamanSeorang fotografer harus dapat menemukan ketajaman objek yang akan dijepretnya. Apakah objek tersebut dibuat fokus semuanya atau hanya objek utama yang fokus sedangkan objek yang lainnya tidak.


3. PencahayaanHasil sebuah foto sangat ditentukan oleh pencahayaan yang ada. Foto yang baik adalah foto dengan pencahayaan yang pas, tidak under dan over exposure.



4. FokusAgar foto dapat dilihat dengan enak,objek yang dihasilkan harus fokus. Seorang fotografer harus dibiasakan mengambil foto dalam keadaan under pressure agar matanya terlatih dalam melihat objek secara jernih. Saat sekarang kamera dan lensa sudah dilengkapi dengan fitur AF (Auto Focus) yang dapat membantu fotografer.

Kerja Seorang Fotografer
Secara kasat mata kerja seorang fotografer tampak seperti datang, memotret lalu pergi. Padahal sesungguhnya kerja di lapangan hanya sepersekian dari kerja total yang dilakukan fotografer. Bagian terbesar dari kerja ini justru dipersiapannya.

Persiapan yang paling mendasar adalah kemampuan teknis. Hal ini tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat. Perlu waktu beberapa hari sampai bulan untuk menguasai teori fotografi dasar dan juga pengenalan pada alat yang dipakai. Pada pemakian lensa non autofocus, harus ada pembiasaan dalam dalam memutar gelang fokus. Ada lensa yang memutar searah jarum jam untuk mendapatkan fokus yang tak terhingga, namun ada yang sebaliknya.

Lampu kilat dari dua jenis dengan merek yang samapun sering punya aturan penyetelan yang berbeda. Pendeknya, seorang fotografer harus sangat kenal dengan benda-benda yang akan dipakainya. Hal terpenting yang harus diingat adalah kerja, kerja seorang fotografer tidak kenal waktu. Kejadian yang harus dipotret bisa datang kapanpun. Maka, semua peralatan seorang fotografer juga harus dalam keadaan siap. Kondisi selalu siap ini bisa dicapai kalau seorang jurnalis foto mampu mendisiplinkan diri untuk mengembalikan segala sesuatu pada tempatnya dan pada kondisi terbaiknya.


Teknik Dasar Memotret dengan Baik untuk Pemula

Maka, akan sangat berguna bagi seorang fotografer untuk datang awal sebelum waktu pemotretan. Ini beguna untuk menjaga - jaga kalau ada sesuatu kekurangan alat yang dibawanya, juga untuk mengetahui segi liputannya. Maka sebuah kalimat yang layak dirijuk adalah “Fotografer datang paling awal dan pulang paling akhir”, adalah kalimat yang harus diterapkan kapanpun
Sumber
- See more at: http://fharhiyedh.blogspot.com/2012/11/Teknik-Dasar-Memotret-dengan-Baik-untuk-Pemula.html#sthash.aXuqSzSm.dpuf

SEKILAS TENTANG FLASH

Blitz atau flash diterjemahkan secara bebas menjadi lampu kilat. Ini merupakan satu asesori yang sangat luas dipakai dalam dunia fotografi. Fungsi utamanya adalah untuk meng-illuminate (mencahayai/menerangi) obyek yang kekurangan cahaya agar terekspos dengan baik. Tetapi belakangan penggunaannya mulai meluas untuk menghasilkan foto-foto artistik. Artikel ini akan membahas dasar-dasar pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan flash dengan benar.
Menggunakan lampu kilat bukan hanya sekedar menyalakan flash, mengarahkan kamera kemudian klik dan jadilah satu foto yang terang, tetapi ada hal-hal yang perlu kita ketahui demi mendapat karya fotografi yang baik.
Blitz dan GN (Guide Number)
Untuk membagi/mengklasifikasikan blitz, ada beberapa klasifikasi yang dapat digunakan. Yang pertama, berdasarkan ketersediaan dalam kamera maka blitz dibagi menjadi built-in flash dan eksternal. Flash built-in berasal dari kameranya sendiri sedangkan blitz eksternal adalah blitz tambahan yang disambung menggunakan kabel atau hot shoe ke kamera. Selain itu, kita juga dapat membaginya berdasarkan tipe/merk kamera.
Kita mengenal dedicated flash dan non-dedicated flash. Dedicated flash adalah flash yang dibuat khusus untuk menggunakan fitur-fitur tertentu dalam suatu kamera spesifik. Biasanya produsen kamera mengeluarkan blitz yang spesifik juga untuk jajaran kameranya dan dapat menggunakan fitur-fitur seperti TTL, slow sync atau rear sync, dll. Sedangkan blitz non-dedicated memiliki fungsi-fungsi umum saja dari kebanyakan kamera dan bisa digunakan terlepas dari tipe/merk kamera. Flash jenis inilah yang biasanya membutuhkan banyak perhitungan karena flash yang sudah dedicated sudah mendapat informasi pencahayaan dari kamera sehingga tidak membutuhkan setting tambahan lagi.
Ada juga flash yang kekuatan outputnya (GN) bisa diatur dan ada juga yang tidak bisa (fixed GN). Kita akan cenderung lebih banyak membicarakan tentang flash yang non-dedicated, non-TTL, dan fixed GN.
Dalam fotografi menggunakan blitz, kita tidak akan lepas dari kalkulasi-kalkulasi yang berkaitan dengan intensitas cahaya yang terefleksi balik dari obyek yang kita cahayai. Karena itu, kita akan berjumpa dengan apa yang sering disebut GN (Guide Number) atau kekuatan flash. Secara singkat kita dapat katakan kalau flashnya berkekuatan besar, maka akan dapat mencahayai satu obyek dengan lebih terang dan bisa menjangkau obyek yang lebih jauh.
GN pada dasarnya merupakan perhitungan sederhana kekuatan flash. Kita mengenal 2 macam penulisan GN yaitu dengan menggunakan perhitungan satuan yang berbeda yaitu m (meter) dan feet (kaki). Lazimnya di Indonesia kita menggunakan hitungan dengan m. Ini merupakan salah satu pertimbangan juga karena untuk flash dengan kekuatan sama, angka GN m dan feet berbeda jauh. Selain itu, umumnya GN ditulis untuk pemakaian film dengan ISO/ASA 100 dan sudut lebar (35mm/24mm/20mm).
GN merupakan hasil kali antara jarak dengan bukaan (f/ stop atau aperture) pada kondisi tertentu (ISO/ASA 100/35mm/m atau ISO/ASA 100/35mm/feet). Sebagai contoh, jika kita ingin menggunakan flash untuk memotret seseorang yang berdiri pada jarak 5m dari kita menggunakan lensa 35mm dan kita ingin menggunakan f/2.8 maka kita memerlukan flash ber-GN 14. Penghitungan yang biasa digunakan biasanya justru mencari aperture tepat untuk blitz tertentu. Misalnya, dengan blitz GN 28 maka untuk memotret obyek berjarak 5m tersebut kita akan menggunakan f/5.6.
GN ini hanya merupakan suatu panduan bagi fotografer. Bukan harga mati. Yang mempengaruhinya ada beberapa. Salah satunya adalah ISO/ASA yang digunakan. Setiap peningkatan 1 stop pada ISO/ASA akan menyebabkan GN bertambah sebesar sqrt(2) atau sekitar 1,4 kali (atau jarak terjauh dikali 1.4) dan peningkatan 2 stop pada ISO/ASA akan menyebabkan GN bertambah 2 kali (atau jarak terjauh dikali 2).
Indoor Flash
Blitz sering bahkan hampir selalu digunakan di dalam ruangan. Alasannya karena di dalam ruangan biasanya penerangan lampu agak kurang terang untuk menghasilkan foto yang bisa dilihat. Memang, ada teknik menggunakan slow shutter speed untuk menangkap cahaya lebih banyak, tapi biasanya hal ini menyebabkan gambar yang agak blur karena goyangan tangan kameraman maupun gerakan dari orang yang ingin kita foto. Karena itu, biasanya kita menggunakan blitz.
Penggunaannya biasanya sederhana. Kita bisa setting kamera digital di auto dan membiarkannya melakukan tugasnya atau bisa juga kita melakukan setting sendiri menggunakan perhitungan yang sudah dilakukan di atas. Tidak sulit. Hanya saja, ada beberapa hal perlu kita perhatikan agar mendapatkan hasil maksimal.
1. Jangan memotret obyek yang terlalu dekat dengan blitz yang dihadapkan tegak lurus. Ambil contoh dengan blitz GN 20 yang menurut saya cukup memadai sebagai blitz eksternal bagi kamera digital dalam pemotretan indoor dalam ruangan (bukan aula). Jika kita ingin memotret sebutlah orang pada jarak 2 meter dengan ISO/ASA 200 maka kita membutuhkan f/16 yang tidak tersedia pada sebagian besar PDC dan akan menghasilkan gambar yang over. Karena itu, untuk PDC/DSLR biasanya sudah terdapat flash built-in yang TTL dan memiliki GN agak kecil (8-12 pada sebagian PDC, 12-14 pada DSLR). Gunakan itu daripada flash eksternal untuk obyek yang agak dekat.
2. Kombinasikan flash dengan slow shutter speed untuk mendapatkan obyek utama tercahayai dengan baik dan latar belakang yang memiliki sumber cahaya juga tertangkap dengan baik. Ini adalah suatu teknik yang patut dicoba dan seringkali menghasilkan gambar yang indah. Jangan takut menggunakan speed rendah karena obyek yang sudah dikenai flash akan terekam beku (freeze).
3. Bila ruangan agak gelap, waspadai terjadinya efek mata merah/red eye effect. Efek mata merah ini terjadi karena pupil mata yang membesar untuk membiasakan diri dengan cahaya yang agak gelap tetapi tiba-tiba dikejutkan cahaya yang sangat terang dari flash. Jika kamera dan/atau flash terdapat fasilitas pre-flash/red eye reduction, gunakan hal ini. Jika tidak, akali dengan mengubah sudut datangnya cahaya flash agar tidak langsung mengenai mata.
4. Dalam ruangan pun ada sumber cahaya yang kuat seperti spotlight. Hindari memotret dengan menghadap langsung ke sumber cahaya kuat tersebut kecuali ingin mendapatkan siluet yang tidak sempurna (kompensasi under 1 - 2 stop untuk siluet yang baik). Dalam kondisi demikian, gunakan flash untuk fill in/menerangi obyek yang ingin dipotret tersebut.
Bounce/Diffuse
Flash adalah sumber cahaya yang sangat kuat. Selain itu, flash adalah cahaya yang bersumber dari sumber cahaya yang kecil (sempit). Karenanya, bila cahaya ini dihadapkan langsung pada suatu obyek akan menyebabkan penerangan yang kasar (harsh). Dalam sebagian besar foto dokumentasi konsumsi pribadi dimana petugas dokumentasi menggunakan kamera point & shoot (film/digital) ini bisa diterima. Tetapi dalam tingkat yang lebih tinggi dimana hasil foto ini akan menjadi konsumsi umum, alur keras cahaya akan memberi efek yang kurang sedap dipandang. Ditambah lagi biasanya ini akan menyebabkan cahaya flash memutihkan benda yang sudah agak putih dan menyebabkan detail-detail tertentu lenyap.
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal ini dalam artian melunakkan cahaya tersebut:
1. Memperluas bidang datang cahaya yaitu dengan memantulkannya ke bidang lain (bounce).
2. Menyebarkan cahaya yang datang dari sumber kecil tersebut sehingga meluas (diffuse).
Bounce flash dilakukan dengan cara memantulkan flash ke satu bidang yang luas sehingga cahaya datang dalam sudut yang lebih luas. Kita bisa menggunakan langit-langit atau dinding yang ada dalam ruangan. Jika flash eksternal yang terpasang pada kamera digital terhubung melalui hot shoe, maka flash tersebut harus memiliki fasilitas tilt untuk memantulkan cahayanya. Jika terpasang melalui kabel synchro, maka kita bisa memasang flash pada bracket dengan posisi sedikit menghadap ke atas/samping atau memegangnya dengan posisi demikian.
Posisi memantulkan yang tepat agar cahaya jatuh tepat pada obyek adalah dengan menghadapkan flash tersebut pada langit-langit di tengah fotografer/flash dan obyek.
Beberapa hal perlu kita perhatikan dalam memanfaatkan bounce flash ini adalah:
1. Jarak untuk menghitung f/stop berubah bukan menjadi jarak kamera dan obyek tetapi berubah menjadi jarak yang dilalui oleh cahaya flash tersebut. Normalnya pada sudut tilt 45° kita akan melebarkan aperture 1 stop dan pada sudut tilt 90° kita melebarkan aperture sebesar 2 stop. Tentunya ini hanya panduan ringkas. Pada pelaksanaan tergantung teknis di lapangan.
2. Berkaitan dengan no. 1 di atas, maka jarak langit-langit/dinding tidak boleh terlalu jauh atau akan jadi percuma.
3. Gunakan selalu bidang pantul berwarna putih dan tidak gelap. Warna selain putih akan menyebabkan foto terkontaminasi warna tersebut sedangkan warna gelap akan menyerap cahaya flash tersebut.
4. Perhatikan bisa terjadi kemunculan bayangan pada sisi lain cahaya. Misalnya jika kita memantulkan ke langit-langit maka kita akan mendapatkan bayangan di bawah hidung atau dagu dan jika kita memantulkan ke dinding di kiri maka akan ada bayangan di sebelah kanan. Untuk mengatasinya kita dapat menyelipkan sebuah bounce card di bagian depan flash tersebut sehingga ketika kita memantulkan cahaya ke atas/samping kita tetap memiliki cahaya yang tidak terlalu kuat yang mengarah ke depan dan menetralisir bayangan yang muncul.
Untuk mengambil foto secara vertical, akan mudah kalau kita menggunakan koneksi kabel karena kita dapat dengan mudah menghadapkan flash ke atas jika menggunakan bracket atau dipegang. Tetapi jika koneksi kita adalah hot shoe maka pastikan flash kita memiliki fasilitas swivel head sehingga dapat kita putar menghadap ke atas. Lebih bagus lagi jika kita memiliki flash yang dapat di-tilt dan swivel. Ini akan mengakomodasi sebagian besar kebutuhan kita.
Cara lain melunakkan cahaya adalah dengan memperluas dispersinya. Caranya gunakan flash diffuser. Flash diffuser akan menyebarkan cahaya yang keluar dari flash ke segala arah sehingga cahaya yang keluar tidak keras. Umumnya tersedia diffuser khusus untuk flash tertentu mengingat head flash berbeda-beda. Dapat juga kita membuat sendiri diffuser untuk flash kita menggunakan bermacam-macam alat.
Ketika kita menggunakan diffuser, sebenarnya kita menghalangi area tertentu dari arah cahaya flash dan membelokkannya ke tempat lain. Ini mengurangi kekuatan flash yang kita gunakan tersebut. Jika diffuser yang kita gunakan adalah hasil beli, maka kita dapat membaca berapa kompensasi aperture yang kita perlukan ketika menghitung eksposur. Biasanya terdapat pada kotak atau kertas manual. Jika kita memutuskan membuat sendiri, maka kita bisa melakukan eksperimen berkali-kali agar mendapatkan angka yang pas untuk kompensasi yang diperlukan kali lainnya.
Outdoor Flash
Sekilas jika kita berpikir tentang penggunaan flash, maka kita akan tahu kalau itu berlaku untuk suasana pemotretan yang kekurangan cahaya. Karenanya, kita umumnya tidak memikirkan tentang perlunya penggunaan flash pada pemotretan luar ruangan (siang hari, of course) karena sinar matahari sudah sangat terang. Di sinilah kesalahan kita dimulai. Flash sangat dibutuhkan pada pemotretan outdoor, terutama pada:
  1. Kondisi obyek membelakangi matahari. Pada kondisi seperti ini, meter kamera akan mengira suasana sudah cukup terang sehingga akan menyebabkan obyek yang difoto tersebut gelap/under karena cahaya kuat tersebut percuma karena tidak direfleksikan oleh obyek. Cara mengakalinya adalah dengan melakukan fill in pada obyek sehingga walaupun latar sangat terang tetapi obyek tetap mendapat cahaya.
  2. Matahari berada di atas langit. Ini akan mengakibatkan muncul bayangan pada bawah hidung dan dagu. Gunakan flash untuk menghilangkannya. Untuk melembutkan cahayanya gunakan bounce card atau diffuser.
  3. Obyek berada pada open shade (bayangan). Flash digunakan untuk mendapatkan pencahayaan yang sama pada keseluruhan obyek karena bayangan akan membuat gradasi gelap yang berbeda-beda pada bagian-bagian obyek apalagi wajah manusia.
  4. Langit sangat biru dan menggoda. Jika kita tidak tergoda oleh birunya langit dan rela mendapat foto langit putih ketika memotret outdoor maka silahkan lakukan metering pada obyek tanpa menggunakan flash atau dengan flash. Jika kita rela obyek kekurangan cahaya asalkan langit biru silahkan lakukan metering pada langit. Nah, jika kita ingin langit tetap biru sekaligus obyek tercahayai dengan baik, gunakan metering pada langit dan fill flash pada obyek. Ini akan menghasilkan perpaduan yang tepat dan pas.
  5. Langit mendung. Ketika langit mendung, jangan segan-segan gunakan flash karena efek yang ditimbulkan awan mendung akan sama seperti jika kita berada di bawah bayangan.
atau flash diterjemahkan secara bebas menjadi lampu kilat. Ini merupakan satu asesori yang sangat luas dipakai dalam dunia fotografi. Fungsi utamanya adalah untuk meng-illuminate (mencahayai/menerangi) obyek yang kekurangan cahaya agar terekspos dengan baik. Tetapi belakangan penggunaannya mulai meluas untuk menghasilkan foto-foto artistik. Artikel ini akan membahas dasar-dasar pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan flash dengan benar.
Menggunakan lampu kilat bukan hanya sekedar menyalakan flash, mengarahkan kamera kemudian klik dan jadilah satu foto yang terang, tetapi ada hal-hal yang perlu kita ketahui demi mendapat karya fotografi yang baik.
Blitz dan GN (Guide Number)
Untuk membagi/mengklasifikasikan blitz, ada beberapa klasifikasi yang dapat digunakan. Yang pertama, berdasarkan ketersediaan dalam kamera maka blitz dibagi menjadi built-in flash dan eksternal. Flash built-in berasal dari kameranya sendiri sedangkan blitz eksternal adalah blitz tambahan yang disambung menggunakan kabel atau hot shoe ke kamera. Selain itu, kita juga dapat membaginya berdasarkan tipe/merk kamera.
Kita mengenal dedicated flash dan non-dedicated flash. Dedicated flash adalah flash yang dibuat khusus untuk menggunakan fitur-fitur tertentu dalam suatu kamera spesifik. Biasanya produsen kamera mengeluarkan blitz yang spesifik juga untuk jajaran kameranya dan dapat menggunakan fitur-fitur seperti TTL, slow sync atau rear sync, dll. Sedangkan blitz non-dedicated memiliki fungsi-fungsi umum saja dari kebanyakan kamera dan bisa digunakan terlepas dari tipe/merk kamera. Flash jenis inilah yang biasanya membutuhkan banyak perhitungan karena flash yang sudah dedicated sudah mendapat informasi pencahayaan dari kamera sehingga tidak membutuhkan setting tambahan lagi.
Ada juga flash yang kekuatan outputnya (GN) bisa diatur dan ada juga yang tidak bisa (fixed GN). Kita akan cenderung lebih banyak membicarakan tentang flash yang non-dedicated, non-TTL, dan fixed GN.
Dalam fotografi menggunakan blitz, kita tidak akan lepas dari kalkulasi-kalkulasi yang berkaitan dengan intensitas cahaya yang terefleksi balik dari obyek yang kita cahayai. Karena itu, kita akan berjumpa dengan apa yang sering disebut GN (Guide Number) atau kekuatan flash. Secara singkat kita dapat katakan kalau flashnya berkekuatan besar, maka akan dapat mencahayai satu obyek dengan lebih terang dan bisa menjangkau obyek yang lebih jauh.
GN pada dasarnya merupakan perhitungan sederhana kekuatan flash. Kita mengenal 2 macam penulisan GN yaitu dengan menggunakan perhitungan satuan yang berbeda yaitu m (meter) dan feet (kaki). Lazimnya di Indonesia kita menggunakan hitungan dengan m. Ini merupakan salah satu pertimbangan juga karena untuk flash dengan kekuatan sama, angka GN m dan feet berbeda jauh. Selain itu, umumnya GN ditulis untuk pemakaian film dengan ISO/ASA 100 dan sudut lebar (35mm/24mm/20mm).
GN merupakan hasil kali antara jarak dengan bukaan (f/ stop atau aperture) pada kondisi tertentu (ISO/ASA 100/35mm/m atau ISO/ASA 100/35mm/feet). Sebagai contoh, jika kita ingin menggunakan flash untuk memotret seseorang yang berdiri pada jarak 5m dari kita menggunakan lensa 35mm dan kita ingin menggunakan f/2.8 maka kita memerlukan flash ber-GN 14. Penghitungan yang biasa digunakan biasanya justru mencari aperture tepat untuk blitz tertentu. Misalnya, dengan blitz GN 28 maka untuk memotret obyek berjarak 5m tersebut kita akan menggunakan f/5.6.
GN ini hanya merupakan suatu panduan bagi fotografer. Bukan harga mati. Yang mempengaruhinya ada beberapa. Salah satunya adalah ISO/ASA yang digunakan. Setiap peningkatan 1 stop pada ISO/ASA akan menyebabkan GN bertambah sebesar sqrt(2) atau sekitar 1,4 kali (atau jarak terjauh dikali 1.4) dan peningkatan 2 stop pada ISO/ASA akan menyebabkan GN bertambah 2 kali (atau jarak terjauh dikali 2).
Indoor Flash
Blitz sering bahkan hampir selalu digunakan di dalam ruangan. Alasannya karena di dalam ruangan biasanya penerangan lampu agak kurang terang untuk menghasilkan foto yang bisa dilihat. Memang, ada teknik menggunakan slow shutter speed untuk menangkap cahaya lebih banyak, tapi biasanya hal ini menyebabkan gambar yang agak blur karena goyangan tangan kameraman maupun gerakan dari orang yang ingin kita foto. Karena itu, biasanya kita menggunakan blitz.
Penggunaannya biasanya sederhana. Kita bisa setting kamera digital di auto dan membiarkannya melakukan tugasnya atau bisa juga kita melakukan setting sendiri menggunakan perhitungan yang sudah dilakukan di atas. Tidak sulit. Hanya saja, ada beberapa hal perlu kita perhatikan agar mendapatkan hasil maksimal.
1. Jangan memotret obyek yang terlalu dekat dengan blitz yang dihadapkan tegak lurus. Ambil contoh dengan blitz GN 20 yang menurut saya cukup memadai sebagai blitz eksternal bagi kamera digital dalam pemotretan indoor dalam ruangan (bukan aula). Jika kita ingin memotret sebutlah orang pada jarak 2 meter dengan ISO/ASA 200 maka kita membutuhkan f/16 yang tidak tersedia pada sebagian besar PDC dan akan menghasilkan gambar yang over. Karena itu, untuk PDC/DSLR biasanya sudah terdapat flash built-in yang TTL dan memiliki GN agak kecil (8-12 pada sebagian PDC, 12-14 pada DSLR). Gunakan itu daripada flash eksternal untuk obyek yang agak dekat.
2. Kombinasikan flash dengan slow shutter speed untuk mendapatkan obyek utama tercahayai dengan baik dan latar belakang yang memiliki sumber cahaya juga tertangkap dengan baik. Ini adalah suatu teknik yang patut dicoba dan seringkali menghasilkan gambar yang indah. Jangan takut menggunakan speed rendah karena obyek yang sudah dikenai flash akan terekam beku (freeze).
3. Bila ruangan agak gelap, waspadai terjadinya efek mata merah/red eye effect. Efek mata merah ini terjadi karena pupil mata yang membesar untuk membiasakan diri dengan cahaya yang agak gelap tetapi tiba-tiba dikejutkan cahaya yang sangat terang dari flash. Jika kamera dan/atau flash terdapat fasilitas pre-flash/red eye reduction, gunakan hal ini. Jika tidak, akali dengan mengubah sudut datangnya cahaya flash agar tidak langsung mengenai mata.
4. Dalam ruangan pun ada sumber cahaya yang kuat seperti spotlight. Hindari memotret dengan menghadap langsung ke sumber cahaya kuat tersebut kecuali ingin mendapatkan siluet yang tidak sempurna (kompensasi under 1 - 2 stop untuk siluet yang baik). Dalam kondisi demikian, gunakan flash untuk fill in/menerangi obyek yang ingin dipotret tersebut.
Bounce/Diffuse
Flash adalah sumber cahaya yang sangat kuat. Selain itu, flash adalah cahaya yang bersumber dari sumber cahaya yang kecil (sempit). Karenanya, bila cahaya ini dihadapkan langsung pada suatu obyek akan menyebabkan penerangan yang kasar (harsh). Dalam sebagian besar foto dokumentasi konsumsi pribadi dimana petugas dokumentasi menggunakan kamera point & shoot (film/digital) ini bisa diterima. Tetapi dalam tingkat yang lebih tinggi dimana hasil foto ini akan menjadi konsumsi umum, alur keras cahaya akan memberi efek yang kurang sedap dipandang. Ditambah lagi biasanya ini akan menyebabkan cahaya flash memutihkan benda yang sudah agak putih dan menyebabkan detail-detail tertentu lenyap.
Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal ini dalam artian melunakkan cahaya tersebut:
1. Memperluas bidang datang cahaya yaitu dengan memantulkannya ke bidang lain (bounce).
2. Menyebarkan cahaya yang datang dari sumber kecil tersebut sehingga meluas (diffuse).
Bounce flash dilakukan dengan cara memantulkan flash ke satu bidang yang luas sehingga cahaya datang dalam sudut yang lebih luas. Kita bisa menggunakan langit-langit atau dinding yang ada dalam ruangan. Jika flash eksternal yang terpasang pada kamera digital terhubung melalui hot shoe, maka flash tersebut harus memiliki fasilitas tilt untuk memantulkan cahayanya. Jika terpasang melalui kabel synchro, maka kita bisa memasang flash pada bracket dengan posisi sedikit menghadap ke atas/samping atau memegangnya dengan posisi demikian.
Posisi memantulkan yang tepat agar cahaya jatuh tepat pada obyek adalah dengan menghadapkan flash tersebut pada langit-langit di tengah fotografer/flash dan obyek.
Beberapa hal perlu kita perhatikan dalam memanfaatkan bounce flash ini adalah:
1. Jarak untuk menghitung f/stop berubah bukan menjadi jarak kamera dan obyek tetapi berubah menjadi jarak yang dilalui oleh cahaya flash tersebut. Normalnya pada sudut tilt 45° kita akan melebarkan aperture 1 stop dan pada sudut tilt 90° kita melebarkan aperture sebesar 2 stop. Tentunya ini hanya panduan ringkas. Pada pelaksanaan tergantung teknis di lapangan.
2. Berkaitan dengan no. 1 di atas, maka jarak langit-langit/dinding tidak boleh terlalu jauh atau akan jadi percuma.
3. Gunakan selalu bidang pantul berwarna putih dan tidak gelap. Warna selain putih akan menyebabkan foto terkontaminasi warna tersebut sedangkan warna gelap akan menyerap cahaya flash tersebut.
4. Perhatikan bisa terjadi kemunculan bayangan pada sisi lain cahaya. Misalnya jika kita memantulkan ke langit-langit maka kita akan mendapatkan bayangan di bawah hidung atau dagu dan jika kita memantulkan ke dinding di kiri maka akan ada bayangan di sebelah kanan. Untuk mengatasinya kita dapat menyelipkan sebuah bounce card di bagian depan flash tersebut sehingga ketika kita memantulkan cahaya ke atas/samping kita tetap memiliki cahaya yang tidak terlalu kuat yang mengarah ke depan dan menetralisir bayangan yang muncul.
Untuk mengambil foto secara vertical, akan mudah kalau kita menggunakan koneksi kabel karena kita dapat dengan mudah menghadapkan flash ke atas jika menggunakan bracket atau dipegang. Tetapi jika koneksi kita adalah hot shoe maka pastikan flash kita memiliki fasilitas swivel head sehingga dapat kita putar menghadap ke atas. Lebih bagus lagi jika kita memiliki flash yang dapat di-tilt dan swivel. Ini akan mengakomodasi sebagian besar kebutuhan kita.
Cara lain melunakkan cahaya adalah dengan memperluas dispersinya. Caranya gunakan flash diffuser. Flash diffuser akan menyebarkan cahaya yang keluar dari flash ke segala arah sehingga cahaya yang keluar tidak keras. Umumnya tersedia diffuser khusus untuk flash tertentu mengingat head flash berbeda-beda. Dapat juga kita membuat sendiri diffuser untuk flash kita menggunakan bermacam-macam alat.
Ketika kita menggunakan diffuser, sebenarnya kita menghalangi area tertentu dari arah cahaya flash dan membelokkannya ke tempat lain. Ini mengurangi kekuatan flash yang kita gunakan tersebut. Jika diffuser yang kita gunakan adalah hasil beli, maka kita dapat membaca berapa kompensasi aperture yang kita perlukan ketika menghitung eksposur. Biasanya terdapat pada kotak atau kertas manual. Jika kita memutuskan membuat sendiri, maka kita bisa melakukan eksperimen berkali-kali agar mendapatkan angka yang pas untuk kompensasi yang diperlukan kali lainnya.
Outdoor Flash
Sekilas jika kita berpikir tentang penggunaan flash, maka kita akan tahu kalau itu berlaku untuk suasana pemotretan yang kekurangan cahaya. Karenanya, kita umumnya tidak memikirkan tentang perlunya penggunaan flash pada pemotretan luar ruangan (siang hari, of course) karena sinar matahari sudah sangat terang. Di sinilah kesalahan kita dimulai. Flash sangat dibutuhkan pada pemotretan outdoor, terutama pada:
  1. Kondisi obyek membelakangi matahari. Pada kondisi seperti ini, meter kamera akan mengira suasana sudah cukup terang sehingga akan menyebabkan obyek yang difoto tersebut gelap/under karena cahaya kuat tersebut percuma karena tidak direfleksikan oleh obyek. Cara mengakalinya adalah dengan melakukan fill in pada obyek sehingga walaupun latar sangat terang tetapi obyek tetap mendapat cahaya.
  2. Matahari berada di atas langit. Ini akan mengakibatkan muncul bayangan pada bawah hidung dan dagu. Gunakan flash untuk menghilangkannya. Untuk melembutkan cahayanya gunakan bounce card atau diffuser.
  3. Obyek berada pada open shade (bayangan). Flash digunakan untuk mendapatkan pencahayaan yang sama pada keseluruhan obyek karena bayangan akan membuat gradasi gelap yang berbeda-beda pada bagian-bagian obyek apalagi wajah manusia.
  4. Langit sangat biru dan menggoda. Jika kita tidak tergoda oleh birunya langit dan rela mendapat foto langit putih ketika memotret outdoor maka silahkan lakukan metering pada obyek tanpa menggunakan flash atau dengan flash. Jika kita rela obyek kekurangan cahaya asalkan langit biru silahkan lakukan metering pada langit. Nah, jika kita ingin langit tetap biru sekaligus obyek tercahayai dengan baik, gunakan metering pada langit dan fill flash pada obyek. Ini akan menghasilkan perpaduan yang tepat dan pas.
  5. Langit mendung. Ketika langit mendung, jangan segan-segan gunakan flash karena efek yang ditimbulkan awan mendung akan sama seperti jika kita berada di bawah bayangan.

Monday, November 11, 2013

Rental Handycam

Rental Handycam

Rental handycam perhari 60rb
Berikut adalah Handycam Soni DCR 65E yang siap di rentalkan

SEWA DSLR CANON




Sewa DSLR


ANDA BUTUH SEWA KAMERA DSLR??
HUBUNGI KAMI 
Zaenal 085759950921/ 7465caef WAHYU 0856 4307 3458| 76898B83.
Sewa ini Untuk areal Yogyakarta .
Berikut adalah daftar tarif nya:
1. Canon 1100d sewa perhari 100rb,
lengkap dengan Lensa 18-55, Tas, Batre, Charger, dan Memory
Canon 1100d tarif sewa 100rb/ hari

2.  Canon 500d sewa perhari 115rb,
lengkap dengan Lensa 18-55, Tas, Batre, Charger, dan Memory
Canon 500d tarif sewa 115rb/ hari
3.  Canon 550d sewa perhari 125rb,
lengkap dengan Lensa 18-55, Tas, Batre, Charger, dan Memory
Canon 550d atau EOS Kiss X4 tarif sewa 125rb/ hari
4. Canon 600d sewa perhari 135rb,
lengkap dengan Lensa 18-55, Tas, Batre, Charger, dan Memory
Canon 600d atau EOS Kiss X3 tarif sewa 135rb/ hari
5. Canon 60d sewa perhari 200rb,
lengkap dengan Lensa 18-55, Tas, Batre, Charger, dan Memory
Canon 60d tarif sewa 200rb/ hari

Jual Beli Kamera di Jogja di Kak WahyuDSLR

Pagi sahabat WahyuDSLR ALhamdulillah Tempat Sewa Kamera di Jogja WahyuDSLR semakin hari semakin banyak peminatnya. Tak terkecuali buat mere...